Kulon Progo,Suarativijogja.com (KUA Pengasih) – Dalam upaya preventif menekan angka kekerasan terhadap perempuan dan anak, program Pusaka Sakinah menggelar kegiatan kolaborasi lintas sektor (linsek) bersama Kader KB Kalurahan Tawangsari pada Senin (29/06/26).
Kegiatan strategis ini mengusung tema yang sangat relevan dengan dinamika ketahanan keluarga masa kini, yaitu "Menjadi Bestie Anak untuk Cegah Kekerasan Terhadap Perempuan". Melalui pendekatan tersebut, para orang tua dan kader didorong untuk memposisikan diri sebagai sahabat tempat anak terbuka, sehingga potensi kekerasan dalam hubungan remaja dapat dideteksi dan diintervensi sejak dini.
Kepala KUA Pengasih, Yusma Alam Rangga H., S.H.I, M.S.I, memberikan apresiasi tinggi atas terselenggaranya kolaborasi ini. Beliau menekankan bahwa ketahanan keluarga harus dibangun dengan fondasi yang sehat bahkan sejak masa pranikah.
"Program Pusaka Sakinah ini adalah garda terdepan kita dalam mengedukasi masyarakat. Dengan sinergi lintas sektor seperti ini, kita ingin memastikan bahwa para orang tua memiliki bekal yang cukup untuk membimbing anak-anak mereka. Mengenali tanda-tanda hubungan yang tidak sehat atau red flag adalah langkah preventif yang sangat konkret untuk menyelamatkan masa depan generasi muda kita dari lingkaran kekerasan," tegas Rangga melalui pesan singkatnya.
Hadir sebagai narasumber utama, Penyuluh Agama Islam KUA Pengasih, Muhammad Munawir, S.Ag. Dalam pemaparannya, ia membedah secara mendalam mengenai pentingnya mengenali indikator perilaku red flag (tanda bahaya hubungan) pada laki-laki yang berpotensi mengarah pada tindakan kekerasan di kemudian hari.
Menurut Munawir, setidaknya ada 5 ciri utama yang wajib diwaspadai oleh para remaja dan dipantau oleh orang tua: Pertama; Posesif: Membatasi ruang gerak, pilihan karir/pendidikan, serta pertemanan pasangan secara berlebihan.
Kedua; Suka Ngatur: Mendominasi setiap keputusan sepihak dan memaksakan kehendak tanpa kompromi.
Ketiga; Playing Victim: Enggan mengakui kesalahan, selalu memutarbalikkan fakta, dan memanipulasi pasangan agar merasa bersalah. Keempat; Suka Mengancam: Menggunakan intimidasi, baik secara fisik, verbal, maupun psikis untuk mengontrol pasangan. Dan Kelima; Emosi Meledak-ledak & Temperamental: Kesulitan mengontrol amarah serta cenderung melakukan tindakan impulsif merusak bahkan untuk memicu hal sepele.
Selain edukasi dari aspek psikologis keagamaan, kegiatan ini juga diperkuat oleh kehadiran Kunti Solihati dari Puskesmas 2 yang memberikan tinjauan dari sisi kesehatan mental dan dampak buruk toxic relationship terhadap reproduksi serta psikologis jangka panjang.
Dukungan penuh juga disampaikan oleh Pemerintah Kalurahan Tawangsari melalui Bu Kartini selaku Kamituwo Tawangsari. Kehadiran beliau menegaskan komitmen pemerintah tingkat kalurahan dalam mengawal isu perlindungan perempuan dan anak. Pihaknya berharap, para Kader KB yang hadir dapat menjadi perpanjangan tangan untuk menyebarluaskan edukasi ini hingga ke tingkat RT dan RW.
Melalui sinergi solid antara KUA Pengasih, Puskesmas, Pemerintah Kalurahan, dan Kader KB ini, diharapkan dapat tercipta ruang aman bagi perempuan dan anak sekaligus melahirkan generasi muda yang cerdas dalam menjalin hubungan interpersonal yang sehat.
(Myid/Red)


Posting Komentar