Kompetisi tersebut menjadi langkah awal dalam memberikan ruang bagi pelayang daerah untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya sekaligus meningkatkan kualitas kompetisi layang-layang tradisional Indonesia. Tidak hanya diikuti peserta dari Daerah Istimewa Yogyakarta, ajang ini juga diikuti pelayang internasional dari 17 negara yang ikut andil dalam meramikan dan memeriahkan acara hari ini.
Mempertandingkan dua kategori, yakni layang-layang tradisional dan layang-layang kreasi. Sebanyak 17 karya layang-layang diterbangkan, terdiri atas 11 peserta kategori tradisional dan 6 peserta kategori kreasi. Kategori tradisional menampilkan beragam karya khas daerah seperti Mandala Berwarna, Batik Ing Ngayogya, Kembang Lintang, Owel, Wijaya Kusuma, hingga Punokawan Gank. Sementara kategori kreasi menghadirkan desain yang lebih inovatif melalui karya seperti Anoman, Drum, Dasamuka 2D, Burung Bido, Whell Kite, dan Kencana Langit.
Ketua Panitia Jogja International Kite Festival 2026, Anang Sarjiyanto, mengatakan Golden Ticket Selection merupakan upaya untuk mengangkat potensi pelayang daerah agar memiliki kesempatan tampil pada kompetisi tingkat nasional sekaligus merasakan atmosfer festival internasional.
"Melalui Golden Ticket Selection kami ingin memberikan kesempatan kepada pelayang daerah untuk bertanding di tingkat nasional. Harapannya mereka semakin percaya diri, terus berkembang, dan mampu bersaing hingga level internasional," tutur Anang.
Penilaian dilakukan oleh dewan juri melalui dua tahapan, yakni penilaian konstruksi layang-layang di darat dan performa saat diterbangkan di udara. Aspek yang dinilai meliputi kualitas rangka, tingkat kesulitan pembuatan, komposisi warna, kestabilan saat terbang, karakter suara, hingga kesesuaian bentuk dengan tema yang diusung peserta.
Selain menjadi ajang kompetisi, penyelenggaraan Golden Ticket Selection mendapat dukungan dari berbagai instansi PT PLN (Persero) Unit Pelaksana Transmisi (UPT) Salatiga melalui Team Leader Gardu Induk Wates, AirNav Indonesia Cabang Yogyakarta. Festival ini dinilai mampu memberikan dampak positif terhadap sektor pariwisata, pemberdayaan UMKM lokal, serta meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya keselamatan dalam aktivitas menerbangkan layang-layang.
Salah satunya Kindar, peserta asal Candimulyo, Magelang menyampaikan,
"Saya ikut bukan hanya untuk mencari juara, tetapi menambah teman dan pengalaman. Harapannya kegiatan seperti ini terus diadakan agar pelayang semakin percaya diri menunjukkan kreativitasnya. Soal hasil, saya anggap sebagai bonus," ungkap Kindar.
Suasana festival semakin semarak dengan kehadiran 35 pelayang internasional dari 17 negara yang turut menerbangkan layang-layang di langit Banaran. Kehadiran mereka menjadi simbol pertukaran budaya sekaligus memperkuat posisi JIKF sebagai festival layang-layang bertaraf internasional.
Salah satu peserta asal Amerika Serikat, Renne Matthew dari Massachusetts, juga menyampaikan, "Ini pertama kalinya saya datang ke Indonesia dan saya sangat senang berada di sini. Orang-orangnya sangat ramah, penyelenggara memperlakukan kami dengan sangat baik, dan festival ini berjalan sangat terorganisasi. Saya berharap bisa kembali lagi tahun depan," ujarnya.
Selain kompetisi, para delegasi internasional juga dijadwalkan mengunjungi berbagai destinasi budaya dan wisata di Yogyakarta sebagai bagian dari program pertukaran budaya yang menjadi ciri khas Jogja International Kite Festival setiap tahunnya.
Melalui Golden Ticket Selection, JIKF 2026 tidak hanya menjadi ajang mencari wakil terbaik menuju kompetisi nasional, tetapi juga menjadi ruang pembinaan, pelestarian budaya, edukasi keselamatan, serta mempererat persahabatan antarbangsa melalui seni layang-layang. Para pemenang seleksi daerah selanjutnya akan tampil pada main event Jogja International Kite Festival 2026 di Pantai Parangkusumo bersama puluhan pelayang dari 17 negara, sekaligus memperkenalkan budaya layang-layang Indonesia kepada dunia.
(Mtp-7ok/Red)


Posting Komentar