BANTUL – Suarativijogja.com --Jogja International Kite Festival (JIKF) 2026 di kawasan Pantai Parangkusumo, Bantul, resmi dibuka pada Sabtu,(11/7/2026).
Dengan tema Melayang Bersama Keluarga Mewujudkan Generasi Emas yang Bertradisi, Berbudaya dan Berinovasi.
Ketua Panitia JIKF 2026, Anang Sarijiyanto, mengatakan bahwa layang-layang bukan hanya sekadar permainan atau perlombaan, melainkan media yang mampu menyatukan berbagai bangsa dalam semangat persahabatan.
“Layang-layang mampu menyatukan berbagai bangsa, budaya, dan usia dalam semangat persahabatan. Kami ingin menjadikan JIKF bukan hanya sebagai festival, tetapi juga media pendidikan karakter, pelestarian budaya, penguatan nilai keluarga, sekaligus ruang lahirnya generasi muda yang kreatif, berbudaya, dan inovatif “, tuturnya.
Dengan tema Melayang Bersama Keluarga Mewujudkan Generasi Emas yang Bertradisi, Berbudaya dan Berinovasi.
Ketua Panitia JIKF 2026, Anang Sarijiyanto, mengatakan bahwa layang-layang bukan hanya sekadar permainan atau perlombaan, melainkan media yang mampu menyatukan berbagai bangsa dalam semangat persahabatan.
“Layang-layang mampu menyatukan berbagai bangsa, budaya, dan usia dalam semangat persahabatan. Kami ingin menjadikan JIKF bukan hanya sebagai festival, tetapi juga media pendidikan karakter, pelestarian budaya, penguatan nilai keluarga, sekaligus ruang lahirnya generasi muda yang kreatif, berbudaya, dan inovatif “, tuturnya.
Hal ini dirasakan oleh salah satu delegasi dari Haiti bahwa kehangatan penyambutan masyarakat Yogyakarta pada even ini meninggalkan kesan mendalam.
Ketika media Suara Tivi Jogja melakukan wawancara dengan Watson Michel dari Haiti menyampaikan sangat bahagia dapat hadir untuk pertama kalinya dalam festival layang-layang internasional yang digelar di Yogyakarta.
"Halo, nama saya Watson Michel, mewakili Haiti. Kami sangat senang berada di sini di Jogja. Ini adalah pertama kalinya kami mengikuti festival internasional yang indah ini," ungkapnya.
Watson menjelaskan bahwa keikutsertaan mereka bukan hanya untuk berkompetisi, tetapi juga membawa identitas budaya Haiti kepada masyarakat dunia melalui layang-layang.
"Harapan kami di sini adalah dapat mewakili negara kami dengan sangat baik, serta menunjukkan kehangatan kami, dan kecintaan kami pada permainan layang-layang," katanya.
Sementara itu, rekan satu timnya, Tetpasolet, menyampaikan rasa terima kasih atas sambutan hangat yang diberikan masyarakat Yogyakarta kepada seluruh delegasi internasional.
Menurutnya, mereka sengaja membawa layang-layang tradisional yang telah menjadi bagian dari budaya masyarakat Haiti sejak kecil sebagai bentuk perkenalan budaya kepada masyarakat Indonesia.
"Jogja menyambut kami dengan hangat, jadi kami membawa budaya dari negara kami yang sudah kami kenal sejak kecil, yaitu layang-layang khas Haiti. Kami bangga bisa berada di sini dan terima kasih telah menerima kami," ujarnya.
Menutup wawancara, Watson Michel berharap dapat kembali mengikuti festival serupa pada masa mendatang. Dengan penuh semangat, ia mengungkapkan apresiasinya kepada Daerah Istimewa Yogyakarta.
"Di masa depan, kami ingin datang ke sini lagi. Jogja Istimewa!" tutupnya.
Partisipasi delegasi Haiti menjadi salah satu bukti bahwa Jogja International Kite Festival 2026 tidak hanya menjadi ajang kompetisi layang-layang, tetapi juga menjadi ruang pertemuan budaya, persahabatan, dan persaudaraan antarbangsa melalui seni tradisional yang mampu menyatukan berbagai negara.
(7ok_ Bara_Rio/Red)



Posting Komentar