(Foto: Myid/Dok.Red)
Kulon Progo, Suarativijogja.com (KUA Pengasih) – Kantor Urusan Agama (KUA) Pengasih melakukan langkah jemput bola yang unik dan interaktif dalam mengedukasi masyarakat mengenai penentuan arah kiblat. Memanfaatkan momentum fenomena alam astronomis, tim KUA Pengasih menggelar sosialisasi langsung di tengah hiruk-pikuk Pasar Wage Pengasih pada Kamis (16/07/26) pagi.
Penyuluh KUA Pengasih dan tim dari KUA Pengasih menyisir dalam pasar, mendatangi para pedagang di lapak mereka, serta menyapa para pengunjung yang sedang berbelanja. Dengan pendekatan yang humanis dan santai, tim menjelaskan fenomena Rashdul Kiblat (Istiwa A'zam) yaitu momen ketika matahari tepat berada di atas Ka'bah yang puncaknya terjadi pada Rabu sore kemarin dan Kamis sore ini pukul 16.27 WIB.
Tim KUA Pengasih secara aktif mengajak para penjual dan pembeli untuk mempraktikkan langsung pengukuran arah kiblat secara mandiri di rumah masing-masing menggunakan metode bayangan matahari yang sangat sederhana namun sangat akurat.
Metode sosialisasi yang langsung menyentuh pusat keramaian ini mendapat respons positif dari warga pasar. Salah seorang pengunjung Pasar Wage, Haji Rajimin, mengaku sangat terbantu dengan edukasi praktis yang diberikan oleh petugas KUA.
"Awalnya saya bingung kok ada ramai-ramai petugas KUA di pasar membawa selebaran. Setelah dijelaskan, ternyata hari ini ada momen matahari tepat di atas Ka'bah. Sangat bermanfaat sekali, apalagi caranya mudah cuma pakai bayangan tiang atau tongkat di rumah nanti sore jam 16.27 WIB. Saya jadi mantap untuk mencobanya sendiri di rumah agar arah kiblat salat keluarga kami benar-benar pas," ujar Rajimin dengan antusias.
Kepala KUA Pengasih, Yusma Alam Rangga, S.H.I., M.S.I., menegaskan bahwa pemilihan pasar tradisional sebagai lokasi sosialisasi merupakan upaya strategis untuk mendekatkan literasi keagamaan dan ilmu falak praktis kepada seluruh lapisan masyarakat secara inklusif. "Pasar adalah urat nadi aktivitas masyarakat. Kami sengaja turun langsung ke Pasar Wage agar edukasi mengenai Rashdul Kiblat ini bisa menjangkau warga secara luas dan langsung tanpa sekat birokrasi. Kami ingin menunjukkan bahwa mengukur arah kiblat itu tidak sulit dan tidak harus menggunakan alat mahal. Cukup dengan memanfaatkan fenomena alam sore ini secara mandiri, masyarakat bisa mendapatkan arah kiblat yang presisi 100 persen untuk rumah ibadah maupun ruang salat pribadi di rumah," jelas Rangga.
Aksi jemput bola ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran beragama masyarakat sekaligus memberikan pemahaman sains Islam yang praktis dan aplikatif di tengah kehidupan sehari-hari.
Penyuluh KUA Pengasih dan tim dari KUA Pengasih menyisir dalam pasar, mendatangi para pedagang di lapak mereka, serta menyapa para pengunjung yang sedang berbelanja. Dengan pendekatan yang humanis dan santai, tim menjelaskan fenomena Rashdul Kiblat (Istiwa A'zam) yaitu momen ketika matahari tepat berada di atas Ka'bah yang puncaknya terjadi pada Rabu sore kemarin dan Kamis sore ini pukul 16.27 WIB.
Tim KUA Pengasih secara aktif mengajak para penjual dan pembeli untuk mempraktikkan langsung pengukuran arah kiblat secara mandiri di rumah masing-masing menggunakan metode bayangan matahari yang sangat sederhana namun sangat akurat.
Metode sosialisasi yang langsung menyentuh pusat keramaian ini mendapat respons positif dari warga pasar. Salah seorang pengunjung Pasar Wage, Haji Rajimin, mengaku sangat terbantu dengan edukasi praktis yang diberikan oleh petugas KUA.
"Awalnya saya bingung kok ada ramai-ramai petugas KUA di pasar membawa selebaran. Setelah dijelaskan, ternyata hari ini ada momen matahari tepat di atas Ka'bah. Sangat bermanfaat sekali, apalagi caranya mudah cuma pakai bayangan tiang atau tongkat di rumah nanti sore jam 16.27 WIB. Saya jadi mantap untuk mencobanya sendiri di rumah agar arah kiblat salat keluarga kami benar-benar pas," ujar Rajimin dengan antusias.
Kepala KUA Pengasih, Yusma Alam Rangga, S.H.I., M.S.I., menegaskan bahwa pemilihan pasar tradisional sebagai lokasi sosialisasi merupakan upaya strategis untuk mendekatkan literasi keagamaan dan ilmu falak praktis kepada seluruh lapisan masyarakat secara inklusif. "Pasar adalah urat nadi aktivitas masyarakat. Kami sengaja turun langsung ke Pasar Wage agar edukasi mengenai Rashdul Kiblat ini bisa menjangkau warga secara luas dan langsung tanpa sekat birokrasi. Kami ingin menunjukkan bahwa mengukur arah kiblat itu tidak sulit dan tidak harus menggunakan alat mahal. Cukup dengan memanfaatkan fenomena alam sore ini secara mandiri, masyarakat bisa mendapatkan arah kiblat yang presisi 100 persen untuk rumah ibadah maupun ruang salat pribadi di rumah," jelas Rangga.
Aksi jemput bola ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran beragama masyarakat sekaligus memberikan pemahaman sains Islam yang praktis dan aplikatif di tengah kehidupan sehari-hari.
(Myid/Red)



Posting Komentar