Suara Tivi Jogja
Suara Tivi Jogja
Media independen yang menyajikan berita aktual, edukatif, dan terpercaya
Selamat datang di Suara Tivi Jogja 👉 Informatif - Inspiratif - Berimbang * / AIESEC in UPN "Veteran" Yogyakarta menggandeng media Suarativijogja //
PASANG IKLAN DI SINI







KUA Pengasih dan PKH Perkuat Spiritual serta Kemandirian Ekonomi Penerima Manfaat di Siluwok Kidul

Kepala KUA Pengasih, Yusma Alam Rangga, S.H.I., M.S.I., memberikan apresiasi atas keberlanjutan program pembinaan terpadu.

 

Kulon Progo — suarativijogja.com – Kantor Urusan Agama (KUA) Pengasih kembali memperkuat sinergi bersama Program Keluarga Harapan (PKH) melalui program pembinaan terpadu Pusaka Sakinah dan SIKAP BAIK (Sinergi KUA dan PKH Berdaya Agamis Inklusif).

Kegiatan tersebut dilaksanakan melalui Majelis Taklim (MT) Az-Ziyadah di kediaman Darmiyati, Siluwok Kidul, Tawangsari, Pengasih, Kulon Progo, Rabu (12/8/2026), dengan menghadirkan warga penerima manfaat sebagai peserta.

Hadir sebagai narasumber, Penyuluh Agama Islam Muhammad Munawir, S.Ag., dan Pendamping PKH Emi Listiawati, S.Pd. Keduanya memberikan pendampingan dari sisi sosial, ekonomi, dan spiritual kepada para penerima manfaat.

Dalam sesi pendampingan sosial, Emi Listiawati menyampaikan edukasi mengenai pentingnya kedewasaan dan kemandirian ekonomi bagi Keluarga Penerima Manfaat (KPM). Ia mengingatkan bahwa bantuan sosial dari pemerintah bukan merupakan bantuan yang bersifat permanen.

“Bantuan PKH itu tidak selamanya. Bagi KPM yang sudah menerima bantuan selama lima tahun, mari bersiap mandiri karena bisa jadi dari pemerintah pusat sudah dianggap ‘lulus’ atau graduasi,” tegas Emi.

Sementara itu, Muhammad Munawir menyampaikan tausiyah bertema refleksi diri mengenai sifat dasar manusia dan solusinya berdasarkan ajaran Islam. Menurutnya, manusia secara alamiah memiliki kecenderungan mudah mengeluh dan kikir, kecuali mereka yang senantiasa menjaga spiritualitas dan keimanannya.

Munawir kemudian memaparkan empat kriteria yang dapat menjadi jalan bagi manusia untuk terhindar dari sifat-sifat buruk tersebut.

Pertama, mendirikan salat, yakni menjaga hubungan dengan Allah secara konsisten sebagai salah satu benteng ketenangan jiwa.

Kedua, gemar bersedekah, sebagai upaya mengikis sifat kikir dengan berbagi rezeki kepada sesama yang membutuhkan.

Ketiga, percaya kepada hari akhir, yaitu meyakini adanya pertanggungjawaban atas setiap perbuatan yang dilakukan selama hidup di dunia.

Keempat, memiliki rasa takut kepada Allah, dengan senantiasa berhati-hati dalam bersikap serta berusaha menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Kepala KUA Pengasih, Yusma Alam Rangga, S.H.I., M.S.I., memberikan apresiasi atas keberlanjutan program pembinaan terpadu tersebut di wilayah Tawangsari.

“Langkah edukasi yang disampaikan pendamping PKH dan penyuluh agama sangat selaras. KUA Pengasih berkomitmen untuk terus mendampingi warga, tidak hanya agar siap secara mental dan ekonomi ketika nanti tergraduasi dari program bansos, tetapi juga memiliki fondasi keimanan yang kokoh dalam mengarungi kehidupan,” tutur Rangga.

Melalui sinergi tersebut, KUA Pengasih dan pendamping PKH berharap pembinaan kepada penerima manfaat dapat berjalan secara berkelanjutan, sehingga masyarakat tidak hanya semakin mandiri secara ekonomi, tetapi juga memiliki ketahanan spiritual dalam menjalani kehidupan.

(myid)

Posting Komentar