Suara Tivi Jogja
Suara Tivi Jogja
Media independen yang menyajikan berita aktual, edukatif, dan terpercaya
Selamat datang di Suara Tivi Jogja 👉 Informatif - Inspiratif - Berimbang * / AIESEC in UPN "Veteran" Yogyakarta menggandeng media Suarativijogja //
PASANG IKLAN DI SINI






Kolaborasi Pertamina-UGM- DLHK DIY 400 Petani Gunungkidul Panen raya Nangka atasi Defisit Gudeg Yogyakarta

Pertamina menggelar Panen Raya dan Penanaman Lanjutan Pohon Nangka di Hutan Lestari Wanaboga Nangka.

 

Gunungkidul -- Suarativijogja.com -- Jika selama ini Yogyakarta harus mendatangkan nangka muda atau gori dari luar daerah untuk kebutuhan industri gudeg, kini solusi itu lahir dari hutan karst Gunungkidul. PT Pertamina (Persero) melalui Pertamina Foundation membuktikan bahwa hutan kering bisa menjadi sumber ketahanan pangan dan ekonomi desa.

Bertempat di Petak 58 RPH Candi, BDH Karangmojo, Kalurahan Jatiayu, Kapanewon Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul, DIY, Pertamina menggelar Panen Raya dan Penanaman Lanjutan Pohon Nangka di Hutan Lestari Wanaboga Nangka  seluas 87 hektare, pada Sabtu (3/10/2026).

Kegiatan ini merupakan kolaborasi strategis antara Pertamina, Pertamina Foundation, Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) DIY, serta Kelompok Tani Hutan Lestari Wanaboga Nangka yang beranggotakan sekitar 400 petani lokal.

Program ini lahir dari fakta di lapangan yang cukup miris. Kebutuhan nangka muda untuk industri kuliner gudeg di Yogyakarta saat ini mencapai sekitar 9 ton per hari, sementara produksi lokal dari wilayah DIY baru mampu memenuhi sekitar 2 ton per hari.

Artinya, masih ada defisit 7 ton per hari yang selama ini harus dipenuhi dari luar DIY. Kondisi ini menjadi ancaman bagi keberlangsungan kuliner ikonik Yogyakarta tersebut.

"Yogyakarta ini identik dengan gudeg, namun selama ini belum memiliki sumber bahan baku mandiri sehingga harus mendatangkan dari luar daerah. Pemanfaatan lahan di Gunungkidul ini adalah bagian nyata dari program ketahanan pangan," ujar Komisaris PT Pertamina (Persero), Nanik S. Deyang, di sela kegiatan panen bersama warga.

Pengembangan kawasan ini juga mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Daerah DIY  atas arahan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam pemanfaatan kawasan hutan untuk kesejahteraan masyarakat.

Perwakilan Kelompok Tani Hutan Lestari Wanaboga Nangka, Ngatimin, mengaku sangat bersyukur. Ia menyebut kelompoknya telah melakukan sedikitnya Tiga kali panen  dan merasakan dampak ekonomi langsung.

"Kami sudah panen tiga kali. Terima kasih Pertamina. Harapan kami pendampingan peningkatan SDM terus berlanjut agar hasil kebun bisa dikembangkan menjadi berbagai produk turunan bernilai tambah, tidak hanya dijual mentah," kata Ngatimin.

Pertamina menegaskan program ini bukan sekedar acara seremonial panen raya.

Corporate Secretary PT Pertamina (Persero), Arya Dwi Paramita, menegaskan komitmen TJSL Pertamina yang terukur.

"Pertamina berkomitmen untuk memastikan setiap program TJSL yang kami gulirkan tidak hanya bersifat karitatif atau momentum sesaat, tetapi memiliki dampak yang terukur, berjangka panjang, dan berkelanjutan. Melalui kolaborasi Hutan Lestari Wanaboga Nangka ini, kami ingin memastikan adanya transparansi dampak sosial-ekonomi yang tercipta, mulai dari kedaulatan pangan, kemandirian ekonomi petani, hingga pelestarian ekosistem lingkungan secara konsisten," tegas Arya.

Untuk mengatasi tantangan lahan karst yang cenderung kering saat kemarau, program ini dikembangkan melalui sistem tumpangsari serta dukungan pengairan berbasis energi bersih.Dalam jangka panjang, kawasan ini tidak hanya diarahkan menjadi lumbung pangan dan sumber bahan baku kuliner, tetapi juga dikembangkan menuju kawasan eduwisata baru di Gunungkidul.

Hal senada diungkapkan President Director Pertamina Foundation, Agus Mashud S. Asngari.

"Ukuran keberhasilan kita adalah seberapa besar dampak yang tersisa lima hingga sepuluh tahun mendatang. Melalui Wanaboga Nangka, kita membuktikan bahwa ketika pemerintah, akademisi, masyarakat, dan dunia usaha bergandengan tangan, hutan tidak hanya lestari, tetapi juga memberi pangan, menjaga iklim, dan menyejahterakan desa," ungkap Agus.

Direktur Penunjang Bisnis PT Pertamina (Persero), M. Erry Sugiharto, menambahkan kunci ekonomi desa ada di hilirisasi.

"Hilirisasi tidak hanya milik sektor pertambangan, tetapi bisa kita mulai dari sebatang pohon nangka untuk mendukung swasembada pangan serta harmoni lingkungan," kata Erry.

Sebagai wujud dukungan nyata, Pertamina Foundation menyerahkan dua unit kendaraan angkut roda tiga untuk mendukung mobilitas hasil panen dari hutan ke pengepul.

Selain itu, diserahkan pula  20 paket bantuan pendidikan SESAMA  yang berisi tas dan alat tulis sekolah bagi anak-anak di sekitar kawasan hutan.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan tradisi sakral dan penuh kebersamaan, yakni Tradisi Kembul Bujono, yakni makan bersama menikmati olahan nangka yang dibuat oleh masyarakat lokal, serta alunan musik tradisional Rinding Gumbeng  khas Gunungkidul sebagai ungkapan syukur atas keberhasilan panen.

Melalui kolaborasi ini, Hutan Wanaboga Nangka diharapkan terus berkembang sebagai model pengelolaan hutan pangan di lahan kering yang mampu memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat, sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.

(Rls-Spr/Red)

Posting Komentar