SLEMAN, suarativijogja.com – Menikmati secangkir kopi di lereng Gunung Merapi menawarkan pengalaman tersendiri. Selain cita rasa kopi, pengunjung dapat menikmati suasana alam yang khas sekaligus mengenal perjuangan pelaku usaha lokal dalam mengembangkan potensi wilayahnya.
Dalam pandangan masyarakat Jawa, garis imajiner yang menghubungkan Pantai Selatan, Keraton Yogyakarta, Tugu Pal Putih, hingga Gunung Merapi memiliki makna filosofis tersendiri. Kawasan lereng Merapi pun menyimpan potensi alam, pertanian, dan pariwisata yang terus dikembangkan masyarakat.
Di tengah potensi tersebut, Samijo, warga Dusun Petung, Kalurahan Kepuharjo, Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman, berupaya mengembangkan usaha kopi yang memanfaatkan hasil perkebunan di lereng Merapi.
Samijo merupakan salah satu warga yang terdampak erupsi Gunung Merapi. Meski menghadapi tantangan alam, ia tidak menyerah. Dengan ketekunan dan kemauan belajar, ia mencoba menekuni budidaya kopi hingga mengembangkan hasil panennya menjadi produk yang dapat dinikmati masyarakat.
Berawal dari Kebun Kopi, Berkembang Menjadi Kedai
Perjalanan usaha Samijo tidak berlangsung secara instan. Berbekal pengalaman sebagai petani dan pengetahuan yang terus dikembangkan, ia menanam tanaman kopi di kawasan lereng Merapi.
Setelah melalui proses yang cukup panjang, pada 2012 Samijo mulai membuka warung kopi sederhana. Usaha tersebut menjadi langkah awal untuk memperkenalkan kopi hasil perkebunannya kepada pengunjung.
Pengolahan kopi masih dilakukan secara tradisional, mulai dari pemetikan buah, pengeringan, hingga penumbukan biji kopi. Cara tersebut dipertahankan sebagai bagian dari proses pengolahan yang telah dijalankannya.
Setidaknya ada dua jenis kopi yang menjadi andalan, yakni Arabika dan Robusta. Keduanya memiliki karakter rasa berbeda sehingga pengunjung dapat memilih sesuai selera.
Kopi Arabika umumnya memiliki cita rasa yang lebih kompleks, dengan tingkat keasaman yang bervariasi dan terkadang menghadirkan aroma buah. Sementara itu, kopi Robusta cenderung memiliki rasa lebih kuat dan pahit, serta kandungan kafein yang umumnya lebih tinggi dibandingkan Arabika.
Perbedaan karakter tersebut memberikan pilihan bagi para pencinta kopi yang datang untuk menikmati sajian khas lereng Merapi.
Tetap Bangkit Meski Dihadapkan pada Erupsi
Mengembangkan usaha di kawasan lereng gunung berapi bukan tanpa risiko. Erupsi Merapi pernah memusnahkan kebun kopi milik Samijo sehingga ia harus menghadapi kenyataan kehilangan sumber penghidupan yang telah dibangun.
Namun, kondisi tersebut tidak memadamkan semangatnya untuk kembali berusaha. Ia berupaya bangkit dan melanjutkan pengembangan usaha kopi dengan memanfaatkan potensi yang tersedia.
Menurut Samijo, kopi yang ditanam di lereng Merapi memiliki keunikan tersendiri.
“Biji kopinya kami tanam di lereng Merapi, di tanah vulkanik, dan memiliki rasa yang khas,” ujarnya.
Tanah vulkanik dapat memengaruhi kondisi pertumbuhan tanaman. Meski demikian, karakter rasa kopi tidak hanya ditentukan oleh tanah tempat tanaman tumbuh. Varietas, kondisi lingkungan, pemetikan buah, proses pascapanen, pemanggangan, hingga teknik penyeduhan juga berperan dalam menentukan kualitas kopi yang disajikan.
Perjalanan Samijo menunjukkan bahwa ketekunan menjadi salah satu modal penting bagi pelaku usaha lokal untuk bertahan menghadapi perubahan kondisi alam.
Menarik Minat Pengunjung, Terutama Anak Muda
Kedai kopi yang dikelola Samijo tidak hanya menjadi tempat menikmati minuman, tetapi juga ruang bagi pengunjung untuk merasakan suasana lereng Merapi.
Menurut Samijo, pengunjung kedainya didominasi anak muda dari Yogyakarta dan sekitarnya. Perpaduan sajian kopi, suasana alam, dan pengalaman berkunjung menjadi daya tarik tersendiri.
Ia menyebut jumlah pengunjung pada hari biasa dapat mencapai sekitar 400 orang per hari. Pada masa liburan, jumlahnya diklaim dapat mencapai 800 orang atau lebih. Kedai tersebut mulai beroperasi sejak pukul 07.00 WIB.
Angka tersebut merupakan keterangan dari pengelola dan dapat menjadi gambaran mengenai tingginya minat pengunjung terhadap usaha kopi yang dikembangkan di kawasan tersebut.
Potensi Kopi Lokal dan Wisata Berbasis Alam
Keberadaan usaha seperti yang dikembangkan Samijo membuka peluang untuk memperkuat hubungan antara perkebunan kopi, pengolahan hasil pertanian, dan sektor pariwisata.
Biji kopi yang diolah dan disajikan langsung kepada konsumen berpotensi memberikan nilai tambah dibandingkan apabila hanya dijual sebagai bahan mentah. Selain itu, pengembangan usaha kopi juga dapat menjadi sarana memperkenalkan hasil pertanian lokal kepada pengunjung.
Konsistensi dalam menjaga kualitas bahan baku, kebersihan, proses pengolahan, serta keramahan pelayanan menjadi faktor penting untuk mempertahankan kepercayaan pelanggan.
Tren menikmati kopi saat ini juga tidak semata-mata berkaitan dengan rasa minuman. Suasana tempat, interaksi dengan pemilik usaha, serta pengalaman menikmati panorama alam turut menjadi bagian dari daya tarik sebuah kedai kopi.
Ke depan, usaha kopi di lereng Merapi diharapkan tidak hanya menjadi tempat menikmati minuman, tetapi juga menjadi salah satu pintu untuk memperkenalkan potensi perkebunan, produk olahan lokal, dan wisata berbasis alam di kawasan Cangkringan.
Perjalanan Samijo memperlihatkan bahwa potensi alam dapat menjadi peluang ekonomi ketika dikelola dengan ketekunan, kreativitas, dan kemauan untuk terus bangkit menghadapi tantangan.
(STJ/Red)




Posting Komentar