Suara Tivi Jogja
Suara Tivi Jogja
Media independen yang menyajikan berita aktual, edukatif, dan terpercaya
Selamat datang di Suara Tivi Jogja 👉 Informatif - Inspiratif - Berimbang * / AIESEC in UPN "Veteran" Yogyakarta menggandeng media Suarativijogja //
PASANG IKLAN DI SINI






Pimpin Salat Istisqa sebagai Imam dan Khatib, Wahib Jamil Pesankan Tiga Ikhtiar

H.M. Wahib Jamil, S.Ag., M.Pd., bertindak sebagai imam sekaligus khatib dalam Salat Istisqa di Lapangan Pengasih Kulon Progo.

KULON PROGO, --- Suarativijogja.com — Kepala Kantor Kementerian Agama (Kankemenag) Kulon Progo, H.M. Wahib Jamil, S.Ag., M.Pd., bertindak sebagai imam sekaligus khatib dalam Salat Istisqa di Lapangan Pengasih, Kamis (22/10/2026) pagi. Dalam khutbahnya, ia menyampaikan tiga ikhtiar yang perlu dilakukan masyarakat untuk menghadapi kemarau panjang, yakni memperbanyak istighfar dan bertaubat, memperbaiki perilaku serta menjaga kelestarian alam, dan bertawakal kepada Allah SWT dengan terus berdoa serta berikhtiar.

Dalam khutbahnya, Wahib Jamil menjelaskan bahwa kemarau panjang berdampak pada berkurangnya sumber air, mengeringnya lahan, serta meningkatnya kebutuhan air bersih masyarakat, termasuk para petani.

Ia menyebutkan, kemarau dapat dipengaruhi berbagai faktor alam, seperti berkurangnya curah hujan, perubahan pola musim, fenomena El Niño, dan perubahan iklim. Kondisi tersebut juga dapat diperparah oleh kerusakan hutan serta berkurangnya daerah resapan air.

Menurutnya, kemarau panjang perlu disikapi melalui upaya nyata sekaligus menjadi momentum introspeksi diri. Ia mengingatkan pesan dalam Surah Ar-Rum ayat 41 tentang kerusakan yang terjadi akibat perbuatan manusia.

Namun, ia menegaskan bahwa kemarau tidak boleh langsung dianggap sebagai hukuman atas dosa orang atau kelompok tertentu. Musibah dapat menjadi ujian, peringatan, sekaligus kesempatan untuk memperbaiki diri.

Tiga Ikhtiar Menghadapi Kemarau

Wahib Jamil menyampaikan tiga ikhtiar yang perlu dilakukan masyarakat.

Pertama, memperbanyak istighfar dan bertaubat kepada Allah SWT. Taubat, menurutnya, bukan sekadar ucapan, melainkan juga penyesalan, meninggalkan perbuatan dosa, bertekad tidak mengulanginya, serta mengembalikan hak orang lain apabila pernah dirugikan.

Kedua, memperbaiki perilaku dan menjaga kelestarian alam. Masyarakat diajak menggunakan air secara bijaksana, merawat pohon, menjaga sumber mata air dan daerah resapan, serta tidak membuang sampah sembarangan. Kepedulian sosial juga perlu ditingkatkan, termasuk membantu warga yang mengalami kesulitan air bersih.

“Jangan sampai kita hanya meminta Allah menurunkan hujan, tetapi kita sendiri tidak mau menjaga bumi yang menjadi tempat turunnya rahmat-Nya,” pesannya.

Ketiga, bertawakal kepada Allah SWT dengan terus berdoa dan berikhtiar. Wahib Jamil mengingatkan bahwa ilmu pengetahuan, teknologi, dan kerja sama masyarakat tetap diperlukan untuk memahami cuaca serta mengatasi dampak kekeringan.

Ia mengajak masyarakat memanjatkan doa dengan rendah hati, menyadari keterbatasan diri, dan memohon rahmat serta pertolongan Allah SWT.

Melalui Salat Istisqa, masyarakat diharapkan tidak hanya memohon turunnya hujan, tetapi juga meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan dan sesama.

(Myid/Red)

Posting Komentar