YOGYAKARTA, Suarativijogja.com – Belajar memainkan gamelan untuk pertama kalinya ternyata meninggalkan kesan mendalam bagi para peserta AIESEC In UPN ""Veteran" Yogyakarta Incoming Global Valunteer (iGV) Summer Peak On the Map 2026. Berasal dari berbagai daerah dengan latar belakang yang berbeda, mereka mengaku sempat merasa gugup, ragu, bahkan menganggap gamelan sebagai alat musik yang rumit. Namun, setelah mengikuti Gamelan Class bersama Swaramandala di UPN "Veteran" Yogyakarta, pandangan mereka berubah setelah mengikuti latihan pada Selasa,(21/7/2026).
Sebagian besar peserta mengaku tidak memiliki pengalaman memainkan gamelan sebelumnya. Ada yang membayangkan alat musik tradisional Jawa itu sangat kompleks, ada pula yang tidak memiliki ekspektasi khusus terhadap kelas yang akan diikuti.
Ketika jurnalis Suarativijogja melansir pendapat peserta belajar gamelan disampaikan oleh Ananda Putera Sugiarto dari Kalimantan Barat, sempat merasa gugup dan membayangkan gamelan sebagai alat musik sulit dipelajari.
"Saya sempat berpikir akan sulit mengenali, apalagi memainkan instrumen gamelan. Tetapi setelah dipelajari, ternyata saya tidak merasa terlalu kesulitan dan justru menikmati proses belajarnya," ujarnya.
Meski demikian, ia mengakui tantangan terbesar adalah menghafal nada, menjaga tempo, serta menyesuaikan pukulan dengan pemain lain. Baginya, melihat para pemain gamelan yang mampu memainkan setiap nada dengan harmonis merupakan sesuatu yang luar biasa.
Ghazy dari Pontianak mengaku gugup sekaligus bersemangat sebelum kelas dimulai. Tantangan yang paling ia rasakan adalah menjaga sinkronisasi permainan bersama peserta lain.
"Kesempatan ini sangat langka. Saya merasa bangga bisa belajar budaya baru. Semoga semakin banyak anak muda yang tertarik mempelajari alat musik tradisional agar budaya Indonesia tetap lestari," katanya.
Sementara itu, Nabila H. dari Yogyakarta mengaku awalnya takut tidak mampu mengikuti pelajaran. Namun berkat kesabaran para instruktur, kekhawatiran itu perlahan hilang.
"Saya senang sekali mendapat kesempatan belajar gamelan. Sebelumnya saya belum pernah mencoba memainkannya. Semoga suatu saat bisa bermain gamelan lagi," ungkapnya.
Pengalaman berbeda disampaikan Ali Ferdian R. dari Daerah Istimewa Yogyakarta. Baginya, Gamelan Class menjadi momen bernostalgia karena pernah memainkan gamelan semasa kecil.
"Rasanya seperti kembali mengingat masa kecil. Tidak banyak kesulitan karena hanya perlu mengingat kembali cara bermain. Yang saya rasakan justru kesenangan tersendiri sekaligus menjadi penyegar di tengah rutinitas," tuturnya.
Peserta dari Jakarta Utara, Nasya Nur Rosyida, sejak awal membayangkan kelas ini akan berlangsung menyenangkan. Ia mengaku tantangan terbesar adalah menjaga fokus di tengah banyaknya bunyi instrumen gamelan yang dimainkan secara bersamaan.
"Seru sekali. Harapan saya, semoga saya tetap ingat cara memainkannya dan tidak langsung lupa setelah sekali belajar," ujarnya sambil tersenyum.
Hal senada juga diungkapkan Nasywa Roesviana Putri dari Purwokerto. Ia mengaku semula tidak memiliki ekspektasi tinggi terhadap kelas gamelan. Namun setelah mengikutinya, pandangannya berubah.
"Ternyata jauh melebihi ekspektasi saya. Seru sekali dan saya mendapat pengalaman baru tentang bagaimana memainkan alat musik gamelan yang selama ini hanya saya dengar di hotel atau acara tertentu. Saya berharap suatu saat bisa memainkan lagu-lagu lainnya," katanya.
Kesan mendalam juga disampaikan peserta asal New Delhi, India, Smaraagyi Nayak. Bagi dirinya, mengikuti Gamelan Class merupakan pengalaman baru yang tidak hanya memperkenalkan alat musik tradisional Indonesia, tetapi juga memperluas wawasannya tentang budaya Nusantara.
"Saya harus mengakui bahwa ini adalah pengalaman yang sangat memperkaya karena saya menyukai musik serta senang memainkan alat musik. Para anggota Swaramandala sangat sabar mengenalkan kami pada instrumen luar biasa ini. Saya bahkan bisa membayangkan diri saya memainkan gamelan lagi di masa depan. Saya sangat berterima kasih kepada semua orang di sini karena telah menjadikan hari ini begitu berkesan bagi kami," ujarnya.
Pengalaman Smaraagyi memperlihatkan bahwa gamelan mampu menjadi bahasa universal yang menjembatani perbedaan budaya. Melalui alunan nada dan kerja sama antarpemain, peserta internasional tidak hanya belajar memainkan alat musik tradisional, tetapi juga merasakan nilai kebersamaan yang menjadi ruh dalam setiap sajian gamelan.
Melihat perkembangan para peserta selama proses pembelajaran, Head of Swaramandala, Lutfan Naury, mengaku kagum dengan kemampuan mereka beradaptasi dalam waktu yang relatif singkat.
Menurutnya, pada awal pembelajaran para peserta terlihat ragu karena harus mengenal instrumen, nada, notasi, teknik bermain, hingga cara mengendalikan dinamika permainan yang sama sekali baru bagi mereka. Namun keraguan itu perlahan menghilang ketika memasuki sesi akhir latihan.
"Mereka benar-benar mempraktikkan filosofi gotong royong, menekan ego dan saling mendengarkan satu sama lain. Harmoni yang mereka hasilkan pada akhirnya justru membuat kami di Swaramandala sangat kagum," ungkap Lutfan.
Ia berharap pengalaman belajar gamelan tidak berhenti sebagai kenangan selama mengikuti program iGV pada 21/7/2026, tetapi juga menjadi bekal untuk memperkenalkan nilai-nilai kebersamaan, toleransi, dan kekayaan budaya Indonesia kepada masyarakat di daerah maupun negara asal para peserta.
Beragam pengalaman yang disampaikan para peserta menunjukkan bahwa Gamelan Class bukan sekadar mengajarkan teknik memainkan alat musik tradisional. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang belajar tentang kebersamaan, saling menghargai, dan harmoni, nilai-nilai yang terkandung dalam filosofi gamelan dan tetap relevan di tengah kehidupan masyarakat modern.
(7ok, Rio, Bara/Red)
Baca juga :
- Gamelan Class, Salah Satu Acara Unggulan iGV Summer Peak On the Map 2026
- Dua Jam Belajar Nggamel, Peserta iGV Berhasil Melantunkan "Lancaran Gugur Gunung"
- AIESEC in UPN "Veteran" Yogyakarta Gandeng Media Partner untuk Dukung Program Relawan Internasional







Posting Komentar