YOGYAKARTA, Suarativijogja.com – Pengalaman belajar Batik Paku di Ruang Terbuka Hijau Publik (RTHP) Taman Purwokinanti meninggalkan kesan mendalam bagi peserta internasional dalam program iGV Summer Peak On the Map 2026. Dua peserta asal India dan Turkiye mengaku kagum terhadap keunikan teknik pembuatan Batik Paku sekaligus nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
Peserta asal New Delhi, India, Saamragyi Nayak, mengatakan dirinya baru menyadari bahwa setiap motif batik memiliki makna dan filosofi yang berbeda.
"Saya menyadari bahwa Batik Purwokinanti adalah seni, budaya, dan tradisi yang sangat indah di Indonesia, khususnya Yogyakarta. Saya pikir generasi muda harus melanjutkan tradisi ini agar tidak hilang seiring berjalannya waktu karena sangat berharga."
Menurutnya, sebelum mengikuti kegiatan tersebut, ia mengira batik hanya berupa gambar atau motif biasa. Namun setelah memperoleh penjelasan dari pengrajin, ia memahami bahwa setiap motif memiliki filosofi tersendiri.
"Saya baru menyadari bahwa setiap motif batik memiliki makna, signifikansi, dan filosofinya sendiri, bukan sekadar gambar acak. Ini adalah seni yang sangat indah yang harus terus dilanjutkan oleh generasi mendatang," ujarnya.
Kesan serupa juga disampaikan Elif, peserta asal Istanbul, Turkiye, yang berkesempatan mencoba langsung membuat Batik Paku.
Menurut Elif, proses pembuatannya tidak mudah karena membutuhkan ketelitian dan kesabaran. Namun justru dari proses tersebut ia semakin menghargai karya para pengrajin batik.
"Saya baru saja mencoba membuat Batik Paku. Rasanya cukup sulit bagi saya, tetapi saya sangat menyukainya, terutama setelah mendengarkan penjelasan proses pembuatannya. Prosesnya memang rumit dan mereka benar-benar bekerja keras untuk menghasilkan karya yang indah."
Ia juga mengaku terkesan dengan motif dan perpaduan warna Batik Paku yang menurutnya memiliki daya tarik tersendiri.
"Saya sangat menyukai motif-motifnya dan warna-warnanya. Saya berharap lebih banyak orang, terutama anak-anak, bisa mempelajari batik ini. Mungkin bisa diajarkan di sekolah agar Batik Paku semakin dikenal banyak orang," katanya.
Sementara itu, pengrajin Wistri Mantono, yang telah mengembangkan Batik Paku sejak tahun 1993, berharap semakin banyak masyarakat, termasuk peserta internasional, yang mengenal dan ikut mempromosikan Batik Paku sebagai salah satu warisan budaya Indonesia.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa program iGV Summer Peak On the Map 2026 tidak hanya memperkenalkan budaya Indonesia kepada peserta internasional, tetapi juga membangun apresiasi lintas budaya. Melalui pengalaman langsung membuat Batik Paku, para peserta membawa pulang pemahaman bahwa setiap karya batik tidak sekadar bernilai estetika, melainkan juga menyimpan sejarah, filosofi, dan identitas budaya yang patut dijaga.
(7ok/Red)
Baca juga :
- AIESEC in UPN "Veteran" Yogyakarta Gandeng Media Partner untuk Dukung Program Relawan Internasional
- Gamelan Class, Salah Satu Acara Unggulan iGV Summer Peak On the Map 2026
- Dua Jam Belajar Nggamel, Peserta iGV Berhasil Melantunkan "Lancaran Gugur Gunung"
- Peserta iGV Belajar Batik Paku dari Pengrajin di RTHP Taman Purwokinanti





Posting Komentar